DETTAK.COM, Jakarta, Senin, 7 September 2026 – Wakil Ketua Umum BP Lansia Pusat, Robinson Napitupulu, menegaskan komitmen organisasi dalam memperjuangkan kehidupan lanjut usia (lansia) di Indonesia agar tetap sejahtera, sehat, panjang umur, berguna, dan bahagia bersama keluarga.
Melalui keterangannya, Robinson mengatakan bahwa memasuki usia lanjut merupakan bagian dari perjalanan kehidupan yang harus mendapatkan perhatian serius dari seluruh pihak, termasuk pemerintah.
“Visi dan misi BP Lansia adalah agar lansia Indonesia hidupnya sejahtera, sehat, panjang umur, berguna dan bahagia bersama keluarga. Di masa usianya yang sudah sepuh, walaupun daya secara alami sudah menurun, tetapi tidak menjadi beban bagi negara dan bangsa,” ujar Robinson.
Menurutnya, salah satu perjuangan utama BP Lansia adalah mendorong pemerintah agar sungguh-sungguh melaksanakan berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan lansia sehingga kelompok lanjut usia dapat memperoleh kesejahteraan lahir dan batin.
Robinson menegaskan, BP Lansia hadir sebagai wadah perkumpulan para lansia yang memiliki komitmen dan tekad untuk ikut mewujudkan kehidupan lansia yang lebih sejahtera.
Ia menjelaskan, BP Lansia telah memiliki legal standing dari pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM RI, serta pendiriannya telah dituangkan dalam akta notaris pada Maret 2024.
Dengan legalitas tersebut, BP Lansia menempatkan diri sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung pelaksanaan berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan lansia.
“Untuk itu saya mengajak bapak dan ibu, mari kita dukung dan bergabung, merapatkan barisan bersama BP Lansia,” kata Robinson.
Ia menyebut BP Lansia saat ini dipimpin Karmen Siregar sebagai pendiri bersama Prof. Jimmy Haryanto, Idris Palar dan sejumlah pengurus lainnya.
Pendataan Lansia Jadi Program Prioritas
Robinson mengungkapkan, salah satu program utama dan pertama BP Lansia adalah melakukan pendataan ulang mengenai jumlah lansia di Indonesia secara lebih komprehensif.
Pendataan tersebut tidak hanya menyangkut jumlah atau kuantitas lansia, tetapi juga data kualitatif yang menggambarkan kondisi mereka secara menyeluruh, mulai dari status ekonomi, kesehatan, sosial hingga budaya.
Data tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan yang tepat dan sesuai dengan kondisi lansia di masing-masing wilayah.
“Fokus kegiatan yang utama dan pertama adalah melakukan pendataan ulang tentang jumlah kuantitas lansia di Indonesia dan data kualitatifnya secara paripurna dan menyeluruh, baik dalam hal status kondisi ekonomi, kesehatan maupun sosial budaya,” jelasnya.
Menurut Robinson, kebijakan terhadap lansia akan lebih tepat sasaran apabila pemerintah memiliki data yang akurat, faktual dan terus diperbarui.
Karena itu, BP Lansia akan mendorong penguatan struktur organisasi hingga tingkat paling bawah, termasuk desa dan kelurahan, yang dinilai menjadi ujung tombak dalam penyediaan informasi mengenai kondisi lansia di wilayah masing-masing.
Konsolidasi Organisasi hingga Desa dan Kelurahan
Selain pendataan, program mendasar BP Lansia juga diarahkan pada konsolidasi organisasi, kaderisasi serta penguatan keanggotaan lansia.
Robinson mengatakan, secara struktur organisasi BP Lansia telah berdiri dan eksis hingga tingkat desa dan kelurahan. Keberadaan struktur tersebut diharapkan mampu memperkuat fungsi organisasi dalam menghimpun data dan fakta mengenai kondisi lansia di berbagai daerah.
“BP Lansia secara struktur organisasi sudah berdiri dan eksis di desa dan kelurahan sebagai ujung tombak dalam melakukan tugas pokok dan fungsinya, terutama menyajikan informasi tentang lansia yang berdasarkan data dan fakta di wilayahnya masing-masing,” ungkapnya.
BP Lansia menargetkan pada kuartal kedua tahun 2027 struktur organisasi dan jaringan BP Lansia sudah tersedia di seluruh Indonesia.
Robinson menambahkan, BP Lansia untuk sementara akan meminimalkan kegiatan yang bersifat seremonial. Program organisasi akan lebih diarahkan pada kegiatan yang memiliki manfaat langsung dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan masing-masing daerah.
“Kegiatan yang bersifat seremonial diminimalisasi dulu dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi kemampuan daerahnya masing-masing,” tegas Robinson.
Ia berharap dukungan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat perjuangan BP Lansia dalam mewujudkan kehidupan lanjut usia yang lebih sejahtera.
Menurutnya, lansia bukan sekadar kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian, tetapi juga memiliki pengalaman, pengetahuan dan potensi yang dapat terus memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat dan bangsa.
“Mari kita dukung dan bersama-sama mewujudkan tujuan organisasi agar lansia Indonesia dapat hidup sejahtera, sehat, panjang umur, tetap berguna dan bahagia bersama keluarga. Semoga tujuan organisasi tercapai,” pungkas Robinson Napitupulu.



















