DETTAK.COM, JAKARTA – Politisi senior Golkar dan SOKSI, Robinson Napitupulu, menyampaikan sebuah tulisan bernuansa satire berjudul “Sinetron Ijazah Palsu” yang menggambarkan dinamika politik nasional, polemik dugaan ijazah palsu, serta fenomena popularitas tokoh politik di tengah masyarakat.
Melalui tulisannya, Robinson mengibaratkan polemik yang selama hampir dua tahun menjadi perhatian publik tersebut sebagai sebuah pertunjukan sinetron politik yang melibatkan sejumlah tokoh dengan peran masing-masing.
Ia menggunakan nama Suparto sebagai tokoh utama dalam cerita pendek tersebut, sementara Ring Surya dan Tifsanti digambarkan sebagai tokoh lain yang memiliki peran dalam rangkaian cerita.
“Ini sebuah kisah cerita pendek. Hampir dua tahun rakyat terkecoh dengan permainan sinetron ijazah palsu. Sutradaranya yang andal adalah Saudara saya, Bapak Suparto. Aktor utamanya Ring Surya, peran pembantu utama Tifsanti, serta beberapa figuran yang tanpa sadar terjebak di dalamnya,” tulis Robinson.
Robinson kemudian mengungkapkan pandangannya mengenai hubungan masa lalu antara Suparto dan Ring Surya. Ia mengaku mengetahui adanya pengalaman kebersamaan keduanya ketika Suparto masih menjabat sebagai pejabat di sebuah kota.
Menurut Robinson, keduanya pernah melakukan perjalanan darat dari kota tersebut menuju Jakarta menggunakan mobil karya anak bangsa. Kenangan itu menjadi salah satu alasan dirinya mempertanyakan dinamika perselisihan yang kini terlihat di hadapan publik.
Dalam tulisannya, Robinson menggambarkan bahwa polemik mengenai ijazah tersebut terus menjadi bahan perbincangan di media sosial maupun media massa, sehingga nama Suparto semakin dikenal masyarakat.
Prediksi Robinson tentang Akhir Polemik Ijazah
Lebih lanjut, Robinson menyampaikan keyakinan pribadinya bahwa ijazah Suparto asli dan bukan palsu. Ia bahkan membuat gambaran satiris mengenai kemungkinan tokoh tersebut suatu saat memperlihatkan dokumen pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
“Saya meyakini ijazahnya ada dan asli, tidak palsu. Di ujung pertunjukan ini, menjelang tahun 2029, ia akan memperlihatkan ijazahnya dari SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi,” tulisnya.
Robinson juga menyinggung agenda persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang menurut tulisan tersebut menjadi salah satu perhatian publik dalam polemik ijazah.
Ia menggambarkan kemungkinan munculnya perubahan persepsi masyarakat apabila seluruh dokumen pendidikan yang dipersoalkan dapat diperlihatkan dan diverifikasi.
Namun, Robinson menempatkan gambaran tersebut sebagai prediksi dan satire pribadi, bukan kepastian mengenai hasil persidangan ataupun keaslian dokumen yang masih menjadi persoalan.
Menilai Strategi Politik dan Peluang 2029
Dalam bagian lain, Robinson menyoroti kemampuan Suparto membangun popularitas dan pengaruh politik. Ia menilai perjalanan politik tokoh yang digambarkannya tersebut merupakan fenomena menarik dalam sejarah politik Indonesia.
Robinson membandingkan perjalanan politik Suparto dengan sejumlah mantan presiden Indonesia, mulai dari Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri hingga Susilo Bambang Yudhoyono.
Ia juga menyinggung fenomena politik dinasti dan keberhasilan Suparto menempatkan penerusnya dalam posisi strategis pemerintahan.
Menurut Robinson, fenomena tersebut menjadi pelajaran penting bahwa penampilan sederhana seseorang tidak selalu mencerminkan kemampuan dan strategi politik yang dimilikinya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh pencitraan, popularitas, maupun komunikasi politik yang dibangun seorang tokoh.
“Like and dislike, kita harus gentle mengakui kehebatan seorang Suparto. Dulu banyak orang menganggap Suparto bodoh, planga-plongo, berwajah katrok, dengan pakaian sederhana. Kini semua anggapan itu hilang ditelan masa,” tulisnya.
Kenangan Bersama Suhardiman dan Pesan tentang Suara Rakyat
Robinson juga mengungkapkan sebuah pengalaman yang menurutnya tidak terlupakan, yakni peristiwa pada Senin, 15 September 2014, di Jalan Kramat Batu I/1, Cipete, Jakarta Selatan.
Dalam tulisannya, ia mengenang pesan seorang tokoh bernama Suhardiman yang pernah menyebut Suparto sebagai “Satrio Piningit”.
Pesan yang paling diingat Robinson adalah pentingnya seorang pemimpin mendengarkan aspirasi masyarakat.
“Dengar suara rakyat, sebab suara rakyat suara Tuhan. Vox Populi Vox Dei,” demikian pesan yang dikenangnya.
Robinson menilai pesan tersebut tetap relevan bagi siapa pun yang mendapatkan amanah kepemimpinan. Menurutnya, kekuasaan seharusnya digunakan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan sekadar mempertahankan pengaruh politik.
Infrastruktur Diapresiasi, Persoalan Pemerintahan Tetap Dikritisi
Dalam tulisannya, Robinson tidak menutup mata terhadap sejumlah capaian pembangunan pada masa pemerintahan Suparto.
Ia menyebut pembangunan infrastruktur, perluasan akses listrik ke desa, pembangunan jalan, jembatan, waduk, irigasi, serta kelancaran distribusi barang dari desa ke kota sebagai sejumlah hal positif yang patut diapresiasi.
Namun, ia juga menyampaikan kritik terhadap persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), penegakan hukum, dugaan pelanggaran hak asasi manusia, serta ketidakadilan dalam hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan penegakan hukum, keadilan, dan pemerintahan yang bersih.
Robinson berharap Indonesia dapat terus memperbaiki tata kelola pemerintahan dan memastikan hukum berlaku adil bagi seluruh warga negara.
Menutup tulisannya, Robinson mengutip semangat perjuangan R.A. Kartini melalui ungkapan “Habis Gelap Terbitlah Terang” sebagai harapan agar berbagai persoalan bangsa dapat terungkap dan diselesaikan secara benar.
Ia menegaskan bahwa tulisan “Sinetron Ijazah Palsu” merupakan cerita pendek bernuansa satire dan refleksi politik. Nama-nama yang digunakan serta penggambaran peristiwa di dalamnya merupakan bagian dari narasi penulis dan tidak dimaksudkan sebagai penetapan fakta hukum mengenai pihak-pihak yang disebutkan.
“Semoga Tuhan bersama Suparto dan seluruh rakyat Indonesia. Amin,” tutup Robinson Napitupulu..



















