DETTAK.COM, JAKARTA – PT Aman Agrindo Tbk (GULA) menyiapkan aksi korporasi berupa penambahan modal melalui mekanisme Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue. Langkah tersebut diproyeksikan menjadi bagian dari strategi perseroan memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung ekspansi bisnis industri gula.
Direktur Utama PT Aman Agrindo Tbk, Andreas Utomo, mengungkapkan bahwa rights issue akan dilakukan setelah perseroan merealisasikan rencana akuisisi pabrik gula. Tambahan modal tersebut diharapkan dapat menopang kebutuhan pendanaan perseroan dalam menjalankan ekspansi.
Rencana akuisisi yang menjadi perhatian utama GULA saat ini adalah pengambilalihan pabrik gula merah di Sragen, Jawa Tengah. Perseroan menargetkan fasilitas tersebut mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
Akuisisi pabrik tersebut diperkirakan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Setelah beroperasi, kontribusi tambahan terhadap pendapatan dan laba diproyeksikan berada di kisaran 35–40%, atau sekitar Rp175 miliar, dengan EBITDA sekitar Rp50 miliar per tahun.
Dengan ekspansi tersebut, Aman Agrindo menargetkan penjualan sepanjang 2026 mencapai Rp336 miliar dan laba bersih sekitar Rp36 miliar.
Langkah ini sekaligus menandai perubahan strategi bisnis GULA dari yang selama ini mengandalkan aktivitas perdagangan atau trading menuju penguatan sektor manufaktur gula.
Saat ini, seluruh pendapatan perseroan masih berasal dari bisnis trading. Namun setelah pabrik gula merah Sragen beroperasi, sektor manufaktur diperkirakan mulai memberikan kontribusi sekitar 25% terhadap pendapatan perseroan.
GULA juga tidak berhenti pada satu aksi akuisisi. Perseroan telah menyiapkan pipeline ekspansi berikutnya dengan membidik akuisisi pabrik gula putih. Penambahan fasilitas produksi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas sekaligus memperbesar porsi manufaktur terhadap pendapatan perusahaan.
Selain ekspansi melalui akuisisi, Aman Agrindo juga mengembangkan perkebunan tebu. Dari total izin lahan awal seluas 15.000 hektare, realisasi penanaman hingga saat ini mencapai sekitar 83 hektare.
Perseroan menargetkan pengembangan perkebunan tebu hingga sekitar 1.250 hektare. Apabila ketersediaan lahan mendukung, pengembangan akan dilanjutkan secara bertahap hingga mencapai luasan berdasarkan izin awal.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, GULA juga menargetkan produksi penggilingan tebu mencapai sekitar 500 ton per hari.
Andreas menyampaikan bahwa pengembangan kapasitas produksi merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Dengan bertambahnya fasilitas manufaktur dan perluasan perkebunan, perseroan berharap dapat menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus meningkatkan skala bisnis.
Rencana rights issue menjadi salah satu instrumen yang disiapkan untuk mengimbangi kebutuhan modal seiring agresifnya ekspansi tersebut. Bagi perseroan, penguatan modal dinilai penting agar ekspansi di sektor gula dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas produksi dan kinerja keuangan.



















