Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaMetropolitan

Denny JA Foundation Gelar Menikmati Puisi Esai di Taman Kota, Luncurkan Antologi Rumah itu Bernama Indonesia

×

Denny JA Foundation Gelar Menikmati Puisi Esai di Taman Kota, Luncurkan Antologi Rumah itu Bernama Indonesia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Puisi esai hadir di ruang publik, mengangkat isu kemanusiaan, keadilan sosial, dan keberagaman Indonesia.

DETTAK.COM, JAKARTA – Denny JA Foundation menggelar kegiatan bertajuk Menikmati Puisi Esai di Taman Kota di Paviliun Merah, Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum peluncuran buku antologi puisi esai berjudul Rumah itu Bernama Indonesia karya Komunitas Arisan Puisi Esai.

Example 300x600

Acara tersebut menghadirkan penggagas puisi esai, Denny JA, serta Mahwi Airtawar yang memberikan ulasan mengenai antologi tersebut. Sejumlah rangkaian kegiatan turut memeriahkan acara, mulai dari pembacaan puisi, pertunjukan teatrikal, diskusi sastra, hingga peluncuran buku.

Melalui kegiatan ini, puisi esai diperkenalkan lebih dekat kepada masyarakat dengan memanfaatkan taman kota sebagai ruang ekspresi dan apresiasi sastra. Kehadiran sastra di ruang terbuka diharapkan dapat memperluas jangkauan karya sastra sekaligus membuka ruang dialog mengenai berbagai persoalan sosial.

Denny JA sebagai penggagas puisi esai memiliki peran penting dalam memperkenalkan genre sastra yang menggabungkan kekuatan ekspresi puitis dengan fakta dan realitas kehidupan. Melalui pendekatan tersebut, puisi tidak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, tetapi juga mengangkat persoalan kemanusiaan, ketidakadilan, serta pengalaman masyarakat yang kerap luput dari perhatian.

Dalam kesempatan yang sama, Mahwi Airtawar mengulas buku Rumah itu Bernama Indonesia. Ulasan tersebut mengajak pembaca memahami kekuatan tema dan pesan kemanusiaan yang disampaikan para penulis melalui karya-karya dalam antologi tersebut.

Buku Rumah itu Bernama Indonesia menghimpun karya para penulis yang tergabung dalam Komunitas Arisan Puisi Esai. Antologi ini mengangkat beragam realitas kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari persoalan kerusakan hutan, keterbatasan akses pendidikan, kehidupan keluarga, persoalan kesehatan, hingga perjuangan masyarakat pesisir dan wilayah perbatasan.

Berbagai kisah tersebut menggambarkan Indonesia dari sudut pandang kehidupan masyarakat sehari-hari. Indonesia tidak sekadar dipandang sebagai wilayah geografis atau simbol kebangsaan, melainkan sebagai rumah bersama yang harus memberikan ruang bagi seluruh warga negara dengan beragam pengalaman, persoalan, dan harapan.

Direktur Denny JA Foundation, Nita Ch. Lusaid, mengatakan bahwa puisi esai menjadi salah satu medium untuk menyuarakan pengalaman sosial dan memperkuat kepedulian terhadap sesama.

“Bagi kami, Indonesia bukan hanya nama besar yang diucapkan pada hari-hari seremonial. Indonesia adalah rumah yang harus menyediakan tempat bagi setiap cerita, terutama cerita mereka yang selama ini berada di pinggir. Melalui puisi esai, pengalaman sosial tidak berhenti sebagai angka atau kabar, tetapi hadir sebagai suara manusia yang dapat kita dengar dan rasakan,” ujar Nita Ch. Lusaid.

Pemilihan taman kota sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna tersendiri. Ruang publik dinilai menjadi tempat yang tepat untuk mempertemukan karya sastra dengan masyarakat luas. Dengan menghadirkan puisi di ruang terbuka, sastra diharapkan tidak hanya dinikmati kalangan tertentu, tetapi dapat menjadi bagian dari kehidupan dan percakapan masyarakat.

Peluncuran antologi Rumah itu Bernama Indonesia sekaligus menandai kontribusi Komunitas Arisan Puisi Esai dalam menghadirkan karya sastra yang berangkat dari realitas sosial. Buku tersebut mengajak pembaca melihat wajah Indonesia melalui kisah masyarakat yang menghadapi berbagai tantangan, tetapi tetap memiliki harapan dan keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Melalui kegiatan Menikmati Puisi Esai di Taman Kota, Denny JA Foundation menegaskan komitmennya untuk mendorong sastra sebagai ruang dialog, refleksi, dan penyampaian pesan kemanusiaan.

Sebab, membangun sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan kebijakan dan pembangunan fisik, tetapi juga kepedulian, empati, serta kesediaan untuk mendengarkan suara dan pengalaman setiap warga negara.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *