Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaEkonomi Dan Bisnis

Hari Noegroho: Industri Kemasan Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di China (Indonesia) Trade Fair 2026

×

Hari Noegroho: Industri Kemasan Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di China (Indonesia) Trade Fair 2026

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

DETTAK.COM, JAKARTA, 3 Juni 2026 – Industri kemasan nasional dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global. Hal tersebut disampaikan Promotion & Partnership Director sekaligus anggota Dewan Pengurus Indonesia Packaging Federation (IPF), Hari Noegroho, saat memberikan sambutan pada Opening Ceremony ajang internasional 2026 China (Indonesia) Trade Fair, 2026 China (Indonesia) Export Brand Joint Expo, dan 2026 International Industrial Week (Indonesia).

Pameran berskala internasional yang berlangsung pada 3–6 Juni 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, tersebut mempertemukan pelaku industri, investor, asosiasi bisnis, serta perusahaan-perusahaan global dari berbagai sektor manufaktur dan kemasan.

Example 300x600

Dalam sambutannya, Hari Noegroho menegaskan bahwa seluruh pemangku kepentingan industri saat ini berada pada momentum penting untuk memperkuat kolaborasi dan memanfaatkan berbagai peluang pertumbuhan ekonomi yang tersedia.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap berada di atas 5 persen, didukung oleh kuatnya konsumsi domestik serta penetrasi e-commerce yang terus berkembang, memberikan peluang besar bagi sektor industri kemasan untuk berkembang lebih cepat.

“Industri kemasan merupakan salah satu indikator utama yang mencerminkan pertumbuhan ekonomi. Ketika industri packaging bergerak, maka aktivitas ekonomi nasional juga akan ikut bergerak,” ujarnya.

Hari menekankan bahwa peningkatan volume industri saja tidak cukup. Indonesia perlu mendorong terciptanya nilai tambah yang lebih tinggi melalui penguatan rantai pasok, inovasi teknologi, serta pengembangan industri yang mampu menghasilkan produk bernilai tinggi.

Dalam konteks tersebut, Indonesia Packaging Federation (IPF) berkomitmen menjadi jembatan kolaborasi yang mempercepat pertumbuhan industri melalui penyediaan solusi rantai pasok kemasan yang lebih cerdas, efisien, dan berdaya saing global.

Ia juga menyoroti pentingnya kemitraan strategis dengan pelaku industri dari Tiongkok yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemimpin dunia dalam teknologi manufaktur, inovasi material, rekayasa industri, serta transformasi digital.

Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar ekspor bagi negara lain, melainkan harus mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai global melalui investasi, transfer teknologi, dan penguatan kapasitas produksi nasional.

“Kita berharap kerja sama yang terjalin dapat mendorong lokalisasi teknologi dari hulu hingga hilir, menekan biaya logistik, serta menjadikan Indonesia sebagai pusat ekspor kemasan utama di kawasan Asia Tenggara,” katanya.

Selain aspek investasi dan teknologi, Hari juga menekankan pentingnya agenda keberlanjutan yang kini menjadi tuntutan global. Regulasi nasional serta implementasi konsep Extended Producer Responsibility (EPR) mendorong industri untuk mempercepat transformasi menuju ekonomi sirkular.

Ia mengajak seluruh pelaku industri untuk beralih dari model ekonomi linier menuju ekonomi sirkular melalui penerapan desain produk yang mudah didaur ulang, pengurangan penggunaan material yang sulit diproses kembali, serta pemanfaatan bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan.

Menurutnya, kolaborasi internasional sangat dibutuhkan untuk memperkuat infrastruktur daur ulang nasional yang saat ini masih memerlukan banyak pengembangan guna mendukung target keberlanjutan jangka panjang.

Di sisi lain, transformasi digital juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri nasional. Implementasi teknologi Industri 4.0, Internet of Things (IoT), otomatisasi manufaktur, hingga smart packaging dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memberikan transparansi yang lebih baik dalam rantai pasok.

“Digitalisasi memungkinkan keterlacakan produk dari proses produksi hingga sampai ke tangan konsumen. Ini menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan pasar dan meningkatkan daya saing industri nasional,” jelasnya.

Menutup sambutannya, Hari Noegroho menegaskan bahwa pameran internasional tersebut bukan sekadar ajang pertemuan bisnis, melainkan wadah strategis untuk membangun kolaborasi, investasi, pertukaran teknologi, dan pengembangan inovasi lintas negara.

Ia berharap para investor dan mitra internasional dapat melihat potensi besar Indonesia sebagai pusat pertumbuhan industri di kawasan, sementara pelaku industri dalam negeri dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerap teknologi dan memperkuat kapasitas produksi nasional.

Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, asosiasi industri, dan mitra global, Indonesia diharapkan mampu membangun sektor industri yang lebih maju, mandiri, berkelanjutan, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat internasional.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *