DETTAK.COM, JAKARTA – Politisi senior Golkar sekaligus Wakil Ketua Umum BP Lansia Pusat, Robinson Napitupulu, mengkritik pernyataan Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun, yang menyebut masyarakat tidak perlu resah terhadap menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat yang mendekati Rp18.000 per dolar karena masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari.
Menurut Robinson, pernyataan tersebut tidak mencerminkan realitas yang dihadapi masyarakat dan justru berpotensi menambah kekecewaan publik yang saat ini sedang menghadapi tekanan ekonomi akibat melemahnya daya beli serta meningkatnya harga kebutuhan pokok.
“Kalau dikatakan rakyat desa tidak menggunakan dolar sehingga tidak perlu resah, itu cara pandang yang keliru. Memang rakyat tidak bertransaksi menggunakan dolar, tetapi dampak penguatan dolar dirasakan langsung melalui kenaikan harga barang, biaya produksi, dan kebutuhan sehari-hari,” ujar Robinson di Jakarta.
Ia menilai bahwa masyarakat saat ini tengah menghadapi berbagai kesulitan ekonomi. Harga kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan, sementara daya beli masyarakat semakin melemah. Kondisi tersebut, menurutnya, menimbulkan paradoks karena Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya sumber daya alam namun masih bergantung pada impor berbagai komoditas.
Robinson menyoroti masih tingginya ketergantungan terhadap produk impor, mulai dari bahan pangan hingga kebutuhan industri. Menurutnya, kondisi ini membuat perekonomian nasional sangat rentan terhadap gejolak nilai tukar mata uang asing.
“Kita memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi masih mengimpor berbagai kebutuhan yang seharusnya bisa diproduksi sendiri. Ketika dolar menguat, dampaknya langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang dan menurunnya daya beli,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa persoalan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya dengan narasi yang menenangkan masyarakat tanpa diikuti langkah-langkah konkret untuk memperkuat produksi dalam negeri, meningkatkan ketahanan pangan, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Menurut Robinson, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu bekerja lebih keras untuk memastikan kekayaan sumber daya alam Indonesia dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.
“Rakyat membutuhkan solusi nyata, bukan sekadar pernyataan yang terkesan meremehkan kesulitan yang mereka hadapi. Yang dibutuhkan saat ini adalah kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ekonomi nasional,” tegasnya.
Robinson berharap momentum pelemahan rupiah dan menguatnya dolar dapat menjadi bahan evaluasi bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional agar lebih mandiri, produktif, dan mampu menghadapi tantangan global.
“Indonesia adalah negara besar dengan sumber daya yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.
Silakan disunting sesuai kebutuhan redaksi sebelum dipublikasikan.



















